Cinta itu Datang Kembali

Minggu, 11 November 2012by Jessica Ratna Sari | 0 comments | Labels:

Matahari pagi telah memancarkan cahayanya. Burung-burung pun turut meramaikan pagi ini dengan kicauannya. Aku membuka jendela kamar dan kubiarkan aroma pagi masuk ke dalam kamar. Kurebahkan tubuh ini di dipan teras kamar. Tidak biasanya aku bangun sepagi ini dan bersantai kunikmati saja segarnya suasana pagi.
Hari ini aku akan bertemu rekan kerja baru yang datang dari Jerman. Aku mendapat tugas dari Pak Bambang, direktur kantorku sebagai penanggung jawab renovasi kantor cabang Kelapa Gading. Bukan hal yang menyenangkan bagiku bekerja sama dengan orang yang baru dikenal. Terlebih lagi pekerjaanku ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya.
Alarm sudah berdering. Waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi. Waktuku bersantai-santai telah habis sepertinya. Menikmati kopi hangat dan roti selai cokelat sudah harus kutinggalkan. Bergegas aku ganti baju dan berangkat ke kantor. Pakaian kebanggaanku, kemeja abu-abu bercorak garis dengan dasi biru, kukenakan khusus untuk bertemu rekan kerja baru. Semoga menjadi penyemangat untuk kerjaku hari ini.
Sampai aku di kantor. Untungnya aku tidak terlambat meski di perjalanan tadi macet cukup panjang. Aku langsung ke ruang Pak Bambang yang sudah bersama rekan kerja baruku dari Jerman. Entah kenapa diri ini dibalut rasa gugup dan resah tak karuan. Tidak seperti biasanya aku begini. Bertemu rekan kerja baru memang tidak menyenangkan bagiku, tapi bukan hanya kali ini saja aku bertemu orang baru. Aku lupakan rasa itu dan mempercepat langkahku menuju ruang Pak Bambang.
Aku berdiri di depan ruang dengan pintu kaca yang bertuliskan “Direktur Utama” di muka pintu. Baru kuingin mengetuk pintu, tapi kebetulan ada orang yang membuka dan mengejutkanku. “Nah! Ini dia orangnya. Kevin, Anda datang tepat pada waktunya. Baru saja saya akan meminta sekretaris untuk menghubungi Anda supaya segera datang. Ayo! Mari masuk! Nona Karin sudah menunggu di dalam,” Pak Bambang yang ternyata membuka pintu dan segera aku dipersilakan masuk.
Namun, langkahku tertahan mendengar nama itu. “Karin?” tertegun di depan pintu menyebut nama itu.
“Hei! Apa yang kamu lakukan di sini. Yaa, namanya Karin, tidak usah Anda bengong di depan pintu seperti ini. Ayo Masuk!” perintah Pak Bambang.
Aku masuk ke dalam ruangan, sosok wanita dengan tubuh ideal dan panjang rambut sebahu sedang duduk di depan meja kebesaran Pak Bambang. Karin adalah sebuah nama yang mengingatkanku dengan kenangan masa lalu. Benakku, memang banyak nama Karin di dunia ini. Kulupakan tentang nama Karin dan mencoba profesional dalam pekerjaaanku. Pak Bambang memperkenalkan aku dengan Karin. “Karin, saya perkenalkan dengan Kevin. Kevin akan bertanggung jawab atas Anda, dari proyek ini dimulai sampai selesai dikerjakan,” Karin berdiri menolehkan pandangannya ke arahku dan berusaha mengajak bersalaman.
Reaksi pertamaku melihatnya dan berkenalan dengan Karin sangat mengejutkan. Hal itu terlihat juga pada Karin yang terdiam dan menahan tangannya untuk bersalaman denganku, ketika dia mengetahui bahwa aku adalah orang yang akan bekerja sama dengannya. Waktu terasa berhenti sangat aku dan Karin bertatap muka. Tidak banyak kata yang terucap dari kami atas pertemuan ini. Tidak banyak juga respon dari kami selain diam dari pertemuan hari ini.
“Ada apa dengan kalian berdua? Diminta untuk berkenalan, kok malah diam. Kalian sudah saling kenal ya?” aku dan Karin dikejutkan dengan teguran Pak Bambang.
“Ah tidak kok Pak, maaf saya terlalu banyak melamun,” jawab Karin berusaha mengembalikan suasana.
“Hallo, Kevin. Senang bisa berkenalan dengan Anda. Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik ya,” Karin mengulurkan tangannya dan bersikap sangat profesional.
“Iya Karin, selamat datang di kantor kami. Mohon kerja sama dan bantuannya ya,” sahutku dan menyambut uluran tangannya dan kami pun bersalaman.
“Kalian ini, kaku sekali kenalannya. Cobalah lebih luwes dan enjoy saja ya. Baiklah, ayo kita duduk bersama dan langsung membicarakan proyek yang akan kita kerjakan. Saya ingin semuanya cepat dilakukan dan selesai tepat waktu sesuai yang sudah direncankan,” Pak Bambang menggiring kami ke mejanya dan mulai membicarakan proyek.
Aku mengikuti perintah Pak Bambang dan duduk di samping Karin. Pak Bambang langsung menjelaskan tugas kami berdua. Karin adalah spesialis tata ruang untuk proyek renovasi kantor dan aku bagian pelaksanaan dari semuanya. Karin begitu sangat serius memperhatikan penjelasan Pak Bambang. Begitu pula denganku yang berusaha profesional dan serius dalam menangani proyek ini. Ragaku memang berada dalam ruang kebesaran direktur. Namun, hati dan pikiranku kembali saat kisah bersama Karin empat tahun yang lalu.
Siang yang cukup terik membuat aku merasa sangat malas untuk masuk kuliah, tapi hari ini UTS akan dilaksanakan dan aku harus datang. Aku siap berangkat dari rumah dengan motor Ninja hijau. Aku melaju dengan kecepatan yang cukup kencang karena waktu seakan menyeru untuk datang di kampus lebih awal. Gadis berbaju jingga dengan tas selempang dan rambut yang terurai melintas di depanku. Aku turunkan kecepatan dan rem mendadak yang aku lakukan. Gadis itu berteriak saat tahu aku melaju dengan cepat dari kejauhan. Akibat aku melaju sangat cepat, hampir saja aku menabrak gadis itu. Untungnya aku sigap dan sesuatu yang tidak diingin tidak terjadi. Beda tipis memang, motor yang aku kendarai berada tepat dihadapannya.
Kulepas helm, “Maaf, lu nggak kenapa-napa kan? Gue buru-buru soalnya, maaf ya.”
“Eh, lu pikir jalanan punya keluarga lu. Seenaknya naik motor kenceng gitu, nggak sadar apa kalo ini jalanan banyak pejalan kaki,” Gadis itu menghampiriku dan terlihat sangat marah.
Aku melihat kemarahannya, tapi justru kecantikannya yang terpancar dari kemarahan itu. “Ah, bodoh sekali,” pikirku.
Setelah meluapkan kemarahannya gadis itu pergi. Aku masih tersenyum-senyum saja melihat responnya. Aku segera beranjak dari tempat itu dan melaju kembali menuju kampusku.
Sampai aku di kampus, melihat sosok gadis sedang duduk di bawah pohon dekat parkiran. Sepertinya gadis itu yang hampir tertabrak olehku tadi siang, pikirku. Aku penasaran dan langsung menghampiri gadis itu. “Hei, kuliah di sini juga?” sapaku.
“Ih, kenapa ketemu lu lagi sih, bikin kesel aja,” beranjak pergi dan menghiraukanku.
“Eh tunggu, nih buku lu jatoh deh kayanya pas yang tadi ketemu,” cobaku merayunya.
“Enak aja ketemu, yang ada tadi tuh lu hampir mau nabrak gue dan itu bukan buku gue,” berusaha mengelak.
“Masa sih, tapi tadi gue temuin ini tadi. Nih ada namanya di buku ini, Airin,” usahaku menahannya dan mengajak bicara,
“BUKAN! Nama gue Karin bukan Airin, gue nggak tau itu buku siapa,” gadis itu tampak kesal dan pergi meninggalkanku.
Gadis itu pergi dengan sangat kesalnya, tapi usahaku cukup berhasil sepertinya. Buku yang aku tanyakan memang bukan bukunya, hanya sebagai pancinganku mengetahui namanya. Caraku tidak pernah meleset dan benar saja aku bisa mengetahui namanya. Ya, nama gadis jutek yang cantik itu adalah Karin.
Setelah kejadian itu, aku terus mendekati Karin. Untungnya aku satu kampus dengan Karin sehingga mempermudahku untuk bisa kenal lebih dalam dengannya. Seiring berjalannya waktu aku semakin dekat dan mengenalnya. Karin gadis yang baik dan mudah berteman, meski emosionalnya terkadang muncul, tapi hal itu kuhiraukan. Aku selalu teringat dengan kemarahannya yang memancarkan pesona Karin waktu pertama kali bertemu. Aku menyukainya, terlebih lagi aku sangat beruntung satu kampus dengan Karin. Jadi, aku bisa mendekatinya lagi lebih dalam. Mengingat-ingat kejadian itu membuatku tersenyum-senyum malu saja.
“Awas kesambet setan lewat lu, bengong sambil senyum sendiri nggak jelas gitu,” kakakku Reno mengejutkanku.
“Hahaha apaan sih lu bang, gue nggak lagi bengong kok,” sahutku mengelak.
“Yakin lu? gue masuk kamar lu aja nggak sadar, bengong itu mah namanya jeleeek hahaha. Eh gue mau minta tolong nanti malem gue mau ketemu temen di Kafe Bianca. Nah lu kan magang jadi penyanyi di situ, temen gue ini request lagu Adera. Tolongin gue ya, nyanyiin lagu itu.”
“Hailah bang, Cuma minta itu aja ampe ngomong langsung. Nanti aja sekalian pas uda di sana.”
“Udah nggak sempet, pokoknya lu harus nyanyiin lagu itu nanti malem pas gue ama temen gue dateng ya, nggak pake nolak. Oke!” Bujuk Reno dan langsung keluar dari kamarku.
Malam telah tiba, ternyata aku tertidur ketika di kamar tadi melamun tentang Karin. Melihat waktu sudah pukul sembilan malam dan teringat pesan dari Reno, aku diminta menyanyikan lagu untuk temannya. Aku langsung bergegas mandi dan berangkat ke Kafe Bianca. Sampainya di kafe Bianca, Reno sudah datang lebih awal dariku. Aku langsung mengambil posisi untuk bernyanyi dan saat Reno memberi kode nanti, barulah aku menyayi pesanan lagu Reno.
Sambil menunggu kedatangan teman Reno, aku menghibur pengunjung kafe dengan beberapa lagu yang kunyanyikan. Reno mengangkat tangannya ke arahku, aku melihat kode itu dan segera kunyanyikan lagu pesanan Reno. Saat kunyayikan lagu Adera, kulihat seorang gadis duduk di samping Reno. Gadis itu adalah Karin, lagu yang aku nyanyikan ini untuk Karin sebagai pernyataan cinta dan persembahan Reno ke Karin. Tadinya aku menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat, tapi semangat itu sirna mengetahui Karin menerima cinta Reno.
Aku tidak menyangka Karin telah menjadi kekasih Abangku saat ini. Aku bingung perasaan apa yang harus aku tunjukkan, perasaan bahagia atau sedih. Kulihat Reno tidak ada di samping Karin, aku mendekati dan menyapa Karin.
“Kenapa harus abang gue yang jadi pacar lu Rin? Kenapa nggak orang lain aja, biar gue bisa ngerebut lu dari dia. Gue pikir selama ini lu ngerasa hal yang sama kaya gue,” sapaku kepada Karin.
“Maksud lu apa Vin, gue anggap lu sebagai temen deket dan nggak lebih dari itu. Gue juga nggak nyangka kalo lu mikir yang lain, tapi sekarang gue uda pacaran sama Reno. Reno abang lu sendiri, lu harus hargai itu. Jauhin perasaan lu Vin,” jawab Karin penuh kebingungan dan Reno menghampiri Karin kembali.
Mungkin di malam itu adalah perbincanganku yang terakhir dengan Karin. Saat di kampus Karin seperti menjaga jarak dariku dan selalu ada Reno di sampingnya. Aku masih terus mendekati Karin berusaha agar Karin masih mau memberi kesempatan aku mengisi hatinya. Cinta Karin kepada Reno begitu kuat karena mereka memang sudah mengenal lebih lama disbanding Karin mengenalku. Aku berpikir tidak ingin menjadi  penghalang hubungan Karin dan abangku sendiri. Aku memutuskan mengikuti sikap Karin dengan saling menjauh.
Pikiranku tidak bisa lepas dari bayangan Karin. Melihat hubungan Reno dan Karin begitu harmonis, aku tidak tega menghancurkannya. Aku mencoba melupakan Karin, menjalin hubungan dengan Dinda. Dinda sudah menyukaiku sejak kami pertama masuk kuliah. Aku tidak bisa membalas cintanya karena aku lebih memilih Karin. Demi melupakan Karin aku mau menerima cinta Dinda, gadis yang tak kalah cantik dan baik dari Karin, tapi aku belum bisa sepenuhnya mencintai Dinda seperti aku mencintai Karin. Menjalani cinta seperti ini menyakitkan untukku, setidaknya hanya menyakitiku dan tidak menyakiti hati abangku.
Malam-malam sedihku kembali datang. Hari ini tepat delapan bulan perjalan cinta Reno dan Karin, aku dan Dinda. Sudah lama memang rasa ini terpendam tapi tidak bisa benar-benar hilang. Biasanya kebanyakan orang berpacaran menghabiskan malam dengan kekasihnya. Hal itu juga dilakukan oleh Reno dan Karin, tapi tidak denganku. Aku hanya menghabiskan waktu malam setelah pulang dari kampus di kamar ditemani gitar putih pemberian abangku. Malam begitu sepi, asyiknya aku memetikan senar-senar gitar perasaan menjadi resah. Beberapa bait yang kunyanyikan tidak masuk ke nada gitar. Petikan terkahir membuat senar gitarku putus, aku bingung dengan keadaan ini. Firasatku berubah tak karuan seperti ada sesuatu masalah yang akan terjadi.
Telepon rumah terus berdering, tidak satu orang pun yang mengangkat. Aku keluar kamar, berniat untuk mengangkat telepon itu. Firasat resahku terjawab, Reno dan Karin mengalami kecelakaan. Aku bergegas menghubungi orang tuaku mengabari berita ini. Setelah menelepon, aku langsung pergi ke rumah sakit mengetahui keadaan Reno dan Karin.
Kabar mengenai kondisi Reno parah karena melindungi orang yang ada di sebelahnya. Orang yang ada di sebelahnya itu pasti Karin, aku langsung mencari tahu kondisi Karin kepada suster yang menanganinya. Karin hanya luka ringan pada bagian kepada dan kaki. Karin selamat karena mendapat perlindungan dari Reno. Dokter mengabarkan Reno dalam keadaan kritis dan Reno sempat berucap ingin menemui Kevin. Aku terkejut dengan kabar itu, segera aku menemui Reno mengetahui keadaannya. Reno menitipkan Karin kepadaku, jika nyawanya tidak dapat terselamatkan. Reno tahu bahwa Kevin mencintai Karin. Saat di Kafe Bianca, ternyata reno mendengar perbincangan aku dan Karin. Tanpa aku sadari Karin telah berada di belakangku saat Reno menyampaikan pesan itu. Aku bisa mnegerti perasaan Karin, hatinya pasti terasa tersayat mendengar pesan Reno untukku. Reno menggenggam tanganku dengan erat dan menghembuskan napas terkahirnya. Reno tidak bisa terselamatkan dari kecelakaan itu.
Menghadapi kenyataan ini Ibuku tidak terima. Karin disalahkan atas kematian Reno. Karin dilarang datang ke pemakaman Reno. Aku pun tidak diizinkan menemui Karin walau ada pesan Reno supaya aku menjaga Karin sebagai pengganti Reno. Karin sangat terpukul atas kejadian ini. Cintanya kepada Reno begitu kuat, Karin ingin tetap setia pda Reno, meski dirinya dititipkan kepadaku. Tidak sanggup menerima semua ini dan rasa sakit hati yang sangat mendalam, Karin memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kenangan bersama Reno dan melupakan diriku.
Keluar dari ruangan Pak Bambang, hatiku masih bercampur aduk rasanya. Bahagia melihat Karin gadis yang pernah aku cintai, tapi aku sedih harus teringat kisahku dulu bersamanya. Cintaku yang terpendam tidak bisa hilang, justru muncul lagi ke permukaan setelah kehadiran Karin. Setelah memutuskan untuk meninggalkan kenangan bersama Reno dan melupakan diriku, ternyata Karin melanjutkan kuliahnya ke Jerman mengambil jurusan arsitektur. Bertahun-tahun lamanya Karin di sana tanpa ada kabar, sekarang dia muncul lagi dan kami dihadapkan dalam satu proyek besar.
“Senang bertemu kamu lagi Rin, aku coba nyari kamu tapi nggak ada yang tahu kamu kemana. Maafin aku ya, maafin orang tuaku,” sapaku kepada Karin.
“Iya Vin, kenapa harus minta maaf. Udah lupain aja, aku juga nggak mau bahas itu lagi,” jawab Karin dan mengulurkan tangannya. Aku melihat kerinduan yang mendalam dari mata Karin.
Ekspresi Karin tidak seperti pertama kali aku bertemunya dahulu degan penuh emosional. Karin sekarang lebih halus dan melupakan semua kejadian masa lalu. Aku dan Karin pergi ke Kafe Bianca, Karin menceritakan semua kisah hidupnya setelah kejadian malam yang menyedihkan itu. Karin mengikuti perkembangan kisah hidupku di Jakarta meskipun dia di Jerman. Karin tahun tentang Dinda, juga tentang hubungan kami yang penuh dengan kebohonganku tidak mencintainya. Karin tahu semua itu dari sahabatnya di Jakarta yang juga berteman denganku di kampus. Karin merasakan ketulusan cinta yang aku berikan, meskipun aku telah menjalin hubungan dengan Dinda. Jahat memang terasa, tapi inilah adanya.
Aku berusaha menjelaskan perasaanku kepada Karin, Karin pun tidak keberatan mendengar curahan hatiku. Karin mau menjalani hubungan baik lagi bersamaku. Tidak sebagai kekasih, Karin ingin mengulang semua dari awal, dari pertama aku dan Karin bertemu. Karin juga tidak ingin aku menyakiti hati Dinda dengan meninggalkannya begitu saja demi dirinya. Semua berjalan seperti apa adanya, saat waktu yang tepat datang dan ketika jodoh mempertemukan aku dan Karin, kami akan bersatu.

0 comments:

Posting Komentar