Malem mingguan ala anak FIB

Sabtu, 01 September 2012by Jessica Ratna Sari | 0 comments | Labels:

Agenda hari ini, harus sampai kampus pukul 15.00, buat persiapan tampil membaca puisi atas nama Komunitas Markas Sastra di Kegiatan MABIM FIB UI yang “katanya” jadwal tampil pukul 17.44-17.52 WIB. Kenyataannya super molor rundown MABIM(entah apa sebabnya). Nunggu lama, yang sebelumnya dikabarin tampil makin mundur, akhirnya waktu tampil tiba juga. Yaa, untuk penampilan membaca puisi barang Markas Sastra kali ini menyenangkan, karena jauh dari gugup dan hasil memuaskan dengan respon maba yang dapat dikatakan bagus . Jadi gak ragu lagi buat tampil-tampil selanjutnya atas nama Markas Sastra J.


Setelah itu sudah nggak ada agenda lagi di kampus “budaya” itu, Cuma ada janji nginep di kos-an teteh (Haulah) barengan sama Igun . Sambil nunggu Igun  eval MABIM yang begitu lama, saya memutuskan untuk malem mingguan bareng teteh sama bibie, melalang buana sekitar UI.

Rute perjalanan malam ini dari FIB, Tekhnik, FIB, Kober, Margonda (Jl. Kapuk), Pocin, Balairung, Perpus Pusat, dan berakhir di FIB (lagi). Disini lah petualang yang nggak tau harus dikatakan biasa aja, seru, atau bahkan menyebalkan. Hal itu kejadian di rute perjalanan dari Balairung sampai ke FIB. Perasaan gugup dalam hati, memberanikan diri aja buat lewat jalanan itu. Jalanan yang gelap dan sepi, ada sih beberapa orang yang lagi mancing di danau UI, tapi tetep aja mencekam *lebay.

Lawakan-lawakan teteh mulai deh yang bikin “toeeeeeeeeet” banget. Lawakan yang nggak  tepat buat sikon saat itu. Akting seorang Haulah yang bilang dia liat dua orang, yang nggak gue ama habibie liat. Gue liat sekitar emang gak ada orang dan senter dari handphone habibie yang nyorot disekitar memastikan beneran ada orang apa nggak, ternyata kan nggak ada dan spontan gue pegangan tangan habibie dan lari ngibrit. Haulah dengan polosnya ketawa-ketawa antara takut dan seneng karena itu ulah si teh Haulah yang iseng nakut-nakutin. Saya berlari, menggandeng tangan habibie dan habibie menarik Haulah, kekuatan lari bertumpu pada saya yang menarik. Habibie terheran-heran dengan postur saya yang minimalis ini bisa lari cepat dan narik dua orang sekaligus disaat genting (lebih tepatnya ketakutan).

Baru kali ini juga sih liat seorang Habibie panik hahaha… nggak kebayang lagi nih mukanya yang nyorot pake senter handphone sambil ngikutin langkah lari gue, ketakutan J. Langkah kaki mulai normal, buat sikon seberisik mungkin biar lawakan (lagi) teh Haulah nggak buat ngibrit, dan sampai FIB lagi tanpa melihat hal aneh apapun.

Sampainya di FIB ada aja lagi kejadian, orang-orang sibuk yang stress kecapean atau emang ada gangguan diingetannya. Saya, teh Haulah, dan Habibie duduk santai depan Kopma sehabis melewati perjalanan horor ala teh Haulah. Banyak panitia MABIM yang lalu lalang, kami bertiga kenal dengan orang yang lalu lalang itu, dan kami yakin mereka juga mengenal kami (apalagi habibie). Anehnya nggak ada satu pun yang negor, boro-boro buat negor, noleh ke kami aja nggak. Kami berpikir mereka sibuk jadinya lewat aja dan menghiraukan kami. Seketika ada salah satu panitia MABIM yang juga lalu lalang berkali-kali dihadapan kami dan dia ngeh ada keberadaan kami. Jadi mereka nggak negor karena emang nggak liat keberadaan kami. Setahu mereka kami jalan menuju stasiun UI bukan d FIB. (kami membiarkan kejadian itu sebagai halusinasi mereka, padahal memang benar kami tadi lewat stasiun UI, cari makan di Pocin).

Waktu di jam sudah menunjukkan pukul 22.30, saya dan Haulah memutuskan untuk pulang ke kos an karena takut dikunciin, biar nanti si Igun menyusul. diperjalanan dari FIB ke kos an, lagi-lagi teh Haulah bikin dag dig dug, dengan ngeliat kucing yang katanya gede banget, padahal jauh dari kata gede. Kucing itu berukuran standar, tapi teh Haulah sangat mendalami aktingnya sampai saya ketakutan (lagi). mungkin memang saya yang penakut atau keisengan teh Haulah yang nyebelin, entahlah. Daripada ngeladenin teh Haulah bikin takut, saya inisiatif telepon Dea buat nemenin ngobrol sampai kos an, dan berisik sendiri biar nggak terpengaruh lagi sama sih teh Haulah.

Sampai kos an akhir dari segalanya, nggak ada hal gaib apapun, makan malam dengan tidak lahap (alergi ikan tongkol), online, terus tidur. Hari yang seru ngebolang tengah malam, lari-lari ketakutan, ngerjain panitia MABIM dengan halusinasi, dan bentol-bentol alergi.

sekian-

0 comments:

Posting Komentar