Refleksi di Waktu Senja
Sabtu, 06 Oktober 2012by Jessica Ratna Sari |
0
comments
|
Labels:
Cerita Pendek
Waktu
menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit, aku keluar dari sebuah gedung
perpustakaan pusat di kampus usai berdiskusi tugas Penulisan Popouler. Masih
disekitaran gedung perpustakaan, langkah kaki membawaku pada keramaian kegiatan
mahasiswa kampus. Tempat yang biasa para mahasiswa melabuhkan pijakannya saat
senja tiba. Aku pun turut melabuhkan pijakanku disalah satu satu sudut pundakan
melingkar dengan pemandangan danau di depannya. Pohon besar dan rindang berada
di titik tengah memayungiku dari sisa-sisa pancaran matahari yang sudah mulai
redup. Goyangan angin yang sepoi-sepoi membawa ketenanganku dalam keramaian.
Pada
saat sekarang ini, kebanyakan mahasiswa sudah selesai dari perkuliahan dan
pulang ke rumah masing-masing. Hanya mahasiswa yang memang ada kegiatan
terpusat di sini atau sekedar mengisi waktu kosong mereka di senja hari. Aku
memandang disekelilingku, tak ada lagi gambaran di wajah mereka kepenatan pelajaran.
Wajah-wajah mahasiswa saat ini berseri melepaskan lelah setelah seharian
menjalani aktivitas perkuliahan.
Tepat di sebelah kiriku
ada sorak-sorak sekelompok mahasiswa yang dipimpin oleh beberapa mahasiswa
lainnya sedang menyerukan yel-yel dan jargon penyemangat. Tak jauh aku
memandang, aku melihat lagi beberapa kumpulan mahasiswa memakai nametag dan slayer orange yang sedang
membuat sebuah karya. Pengamatanku tidak begitu jelas karya apa yang mereka
buat. Mungkin itu rangkaian kegiatan masa bimbingan orientasi dari salah satu
fakultas, pikirku. Memang saat ini masih suasana menyambut mahasiswa baru.
Di
sebelah kanan sisiku, aku dimanjakan dengan suara biola yang dimainkan oleh
salah seorang mahasiswa. Begitu hebat dia memainkan alat musik itu. Sejenak aku
menutup mata dan merasakan alunan biola yang masuk ke pendengaranku begitu
syahdu dan turun ke dalam hatiku. Aku rasakan ketulusan di setiap gesekan
permainan biola itu. Aku pandangi pemain biola tersebut dari sisiku, aku terpesona
dengan wajahnya apalagi dengan permainan biolanya yang indah. Aku tersipu dan
senyum-senyum sendiri, segera aku mengalihkan pandanganku. Sungguh menjadi
refleksi diri yang sangat menenangkan.
Pandanganku beralih
pada sebuah danau yang cukup luas. Posisi danau persis ada di depanku. Pada
sisi danau di sebuah darmaga kecil, kulihat dua orang yang sedang memotret satu
model cantik memakai pakaian berwarna hijau dihadapan mereka. Tempat ini memang
sering kali menjadi objek pemotretan para mahasiswa yang senang fotografi atau
orang-orang luar kampus yang tertarik mengambil gambar dengan latar danau di
sore hari.
Di sekelilingku, aku
melihat beberapa mahasiswa yang sedang duduk-duduk sendiri sama sepertiku
dengan laptop yang mereka pangku. Terlihat asyik mereka dengan headset yang menempel ditelinga. Zaman
yang serba teknologi seperti saat ini, banyak mahasiswa yang memakai gudget. Hal itu juga terlihat
disekitarku, mahasiswa yang asyik dengan tablet
pc mereka. Belum lagi dengan mahasiswa yang serius dengan handphone canggih ditangan mereka.
Pemandangan ini bagaikan miniatur pameran alat elektronik. “Mungkin ini pelampiasan
dari kegiatan mereka seharian di kampus”, gumamku.
Aku menoleh ke
belakang, terlihat dibalik kaca bening besar beberapa orang yang menghadap ke
arah danau sambil menikmati suguhan sore hari, berupa teh atau kopi dan
didampingi snack ringan yang disajikan.
Mereka sedang berada di salah satu restaurant
dengan papan nama warna hijau yang begitu besar pada kaca bertulisankan
“Starbucks”. Biasanya kebanyakan dari mereka adalah orang asing yang
berkunjung. Namun, tidak sedikit juga bagian dari mahasiswa atau pegawai kampus
yang mengunjungi tempat itu untuk bersantai-santai.
Matahari semakin
meredupkan cahayanya. Tanpa sadar disekelilingku mahasiswa yang menempati taman
melingkar ini semakin banyak saja. Apalagi pukul tujuh malam nanti gedung
perpustakaan akan ditutup. Banyak mahasiswa yang akan beralih ke taman ini
sekiranya melanjutkan kegiatan mereka atau hanya sekedar duduk dan berbincang
dengan teman-teman mereka. Ada juga mahasiswa sambil menunggu waktu adzan Magrib
tiba dan bisa segera ke MUI untuk menunaikan ibadah salat.
Saat ketenanganku, aku
tersentak mendengar sorakan yang begitu keras dengan yel-yel dan jargon
penyemangat. Sigap leherku menoleh ke asal suara tersebut. Ternyata sekolompok
mahasiswa yang berada di sebelahku tadi menyelesaikan kegiatan mereka. Sorakan
penutup yang sangat keras dan penuh semangat menyongsong waktu pulang mereka.
Sungguh sorakan yang sangat mengagetkan.
Langit telah berubah
warna, dari matahari yang cerah kuning kemerahan sekarang menjadi warna gelap
yang cukup pekat. Malam akan segera tiba, waktu seakan memerintahkan
orang-orang disekelilingku termasuk diriku untuk segera kembali ke rumah.
Sebenarnya aku masih nyaman berada di sini, meskipun sendiri aku merasakan
kedamaian yang jarang sekali aku dapatkan.
Namun, waktu memaksaku
untuk meninggalkan tempat ini. Satu per satu orang-orang disekelilingku bergegas
menyiapkan barang mereka dan kemudian pergi. Entah kenapa perasaanku selama
senja tadi begitu tenang dan nyaman walaupun disekitarku penuh dengan
keramaian. Aku merefleksikan diri dari kepenatanku dengan merasakan keindahan
suasana dan melihat lalu lalang orang banyak. Aku bisa menghela napas yang
panjang dan menghirup udara segar karena selama ini kegiatan kusehari-hari terperangkap
dalam fakultas. Aku dapat melupakan sejenak akan tugas kuliah dan program
kerjaku di organisasi.
Suara adzan Magrib
sudah berkumandang, aku menambah kecepatan membereskan barang-barangku,
mematikan laptop, dan memasukkannya ke dalam tas ransel cokelatku. Aku beranjak
dari posisi dan memulai langkah kaki menuju MUI untuk menunaikan ibadah salat. Beberapa
langkah aku menelusuri jalan, sejenak terhenti dan menoleh ke belakang. Senja
yang indah bersama tempat yang juga indah ini. Melanjutkan perjalananku menuju
MUI aku berharap esok hari ada waktu lengang dan bisa menikmati lagi kenyamanan
berada di taman melingkar perpustakan pusat kampusku ini.
0 comments:
Posting Komentar