Penantian Meraih Maaf
Sabtu, 06 Oktober 2012by Jessica Ratna Sari |
0
comments
|
Labels:
Cerita Pendek
Panasnya
cuaca siang terasa masuk ke dalam pori-pori kulit setelah keluar dari lantai
dua, Gedung IV FIB UI, usai kelas Penulisan Populer. Langkah kakiku lemas
menuju selasar gedung, pikiran kalut teringat teguran keras dari Pak Sunu, dosen
Penulisan Populer. Kesalahanku lupa mengumpulkan tugas menulis cerpen sampai
telat empat hari. Rasa bersalah terus menghantui, tak pernah aku melihat dosen
itu penuh amarah seperti di kelas tadi. Kata hati menuntunku untuk meminta maaf
sekali lagi walaupun di kelas sudah kucoba menjelaskan alasan keterlambatanku
mengumpulkan tugas.
Bergegas
aku menghadap dosen di ruang prodi gedung tiga. Berputar arah melewati lorong
gedung dua menuju tempat prodi. Telah sampai langkah kaki di depan sebuah meja
cokelat yang lumayan besar dan dijaga satpam wanita cantik. Kusapa dia dengan
perasaan penuh ragu. “Selamat siang Mbak, permisi mau ketemu Pak Sunu Prodi
Indonesia, bisa?” Izinku kepadanya.
“Oh
iya Dek, bisa. Tulis nama kamu dan nama orang yang didatangi, ya," sambil
menyodorkan sebuah buku tamu yang cukup tebal.
“Ini
sudah, Mbak.” balasku sopan dan satpam wanita itu mempersilakan aku masuk
diiringi senyum bersahabat kepadaku.
Aku
masuk dan melihat sekitar, ternyata ruang Prodi Indonesia berada di lantai
satu, pojok sebelah kanan dari pintu depan gedung tiga. Aku hampiri ruang itu,
tertata meja-meja kayu bundar dikelilingi kursi yang juga terbuat dari kayu,
dipenuhi oleh mahasiswa lain yang mungkin sedang konsultasi dengan dosen,
pikirku. Aku dipersilahkan masuk ke ruang prodi oleh salah seorang dosen ketika
aku menghampirinya dan menjelaskan maksudku ingin bertemu Pak Sunu.
Aku
terdiam di depan pintu ruang prodi karena aku ragu untuk masuk. Masih di depan
pintu, aku melihat ke sebelah kanan dan kiri terdapat lemari kayu dan tumpukan
kertas yang diikat menjadi beberapa bagian menggunakan tali. Aku pun
dibingungkan dengan adanya kaleng kerupuk kosong bertuliskan “Punya Tomi” di
samping tumpukan kertas itu, “Mungkin salah satu dosen bernama Pak Tomi
berjualan kerupuk juga,” gumamku.
Aku
menarik napas, kuberanikan tanganku meraih gagang pintu dan membuka ruang
prodi. Namun, aku terdiam kaget karena di ruang prodi tidak ada orang, mungkin dosen
yang mempersilakan aku masuk sibuk mengurus mahasiswanya. Jadi, membiarkan aku
masuk ruang prodi dalam keadaan kosong seperti ini, pikirku lagi.
Setelah
di dalam ruang prodi, aku terkejut dengan kondisi ruang yang begitu sempit
untuk dosen Prodi Indonesia. Kulihat di sebelah kanan terdapat lemari buku dan
loker untuk dosen Prodi Indonesia lainnya. Aku perhatikan sampai loker yang paling
bawah, ada hal yang membuatku penasaran. Salah satu loker dosen memasang foto
wajah close up seorang anak Palestina
yang dilalati. Aku tidak mengerti apa maksud dari foto itu, tapi aku juga tidak
berani mencari tahu lebih lanjut.
Di
samping loker itu ada meja yang ditaruh map bermerek Bindex. Map itu kepunyaan
masing-masing dosen Prodi Indonesia. Aku menduga hal itu karena ada inisial
nama di setiap map pada bagian depan. Map yang berisikan kertas-kertas itu
tersusun sangat rapi dan diberi lahan untuk menaruh tas para dosen.
Geser
ke sebelah kanan, terdapat kulkas yang berukuran sedang dan di sampingnya
dispenser biru yang berukuran besar. Ada meja kecil berisikan beberapa alat
makan, makanan ringan, kopi, teh, dan gula. Mungkin ini disebut meja dapur untuk
para dosen yang suka menyedu teh atau kopi sendiri, gumamku. Di sisi dekat
kulkas, terlihat sangat cantik lukisan yang dibuat oleh salah satu dosen
ternama Prodi Indonesia, Bapak Sapardi.
Di
samping meja dapur, ada lima unit komputer lengkap dengan printer dan scanner.
Tertata rapi di atas meja komputer yang berukurang sama kelimanya. Dari lima
unit komputer hanya ada dua yang terlihat komputer keluaran terbaru, lainnya
tampak komputer jadul. Di salah satu bagian unit komputer juga terdapat fax
ditaruh rapi di atasnya. Melihat ke bawah semua meja komputer, lagi-lagi
terdapat banyak tumpukan kertas yang terlihat agak berantakan.
Pandanganku
beralih ke sebelah kiri ruangan, terdapat loker-loker para dosen yang tertulis
inisial nama mereka di setiap lokernya. Di pintu loker juga tertera nama-nama
beserta mahasiswa bimbingan masing-masing dosen. Menurutku, hal itu dilakukan
agar para dosen tidak lupa dan mudah mendata mahasiswanya. Bagian atas loker
juga terdapat map kearsipan yang tertata berdampingan.
Di
sebelah loker berdiri lemari kaca yang lumayan besar. Seperti perpustakaan
kecil di ruang prodi itu. Terdapat tiga bagian di dalam lemari itu, ada dua bagian
sastra dan satu bagian linguistik. Aku terkagum melihat buku-buku itu. Di atas
lemari kaca terdapat juga lukisan yang tidak bisa kulihat secara jelas siapa
yang melukis karena ditaruh agak tinggi. Sebelah lemari kaca ada sedikit celah,
ditaruh kaca setengah badan dengan frame
hitam. Di bawah kaca terdapat gulungan kabel dan stop kontak. Cukup
mengkhawatirkan melihat kabel-kabel tersebut karena dapat menyebabkan arus
pendek listrik dan tidak seperti yang dibayangkan, ternyata ruang prodi juga
memiliki rice cooker kecil. Mungkin
para dosen sesekali masak nasi saat malas ke luar membeli makan siang.
Melangkah ke sebelah kiri dari letak kaca, terdapat lemari kayu yang berukuran
besar berwarna cokelat. Aku tidak tahu dengan persis apa isi lemari itu.
Mungkin tidak lain buku-buku mata kuliah.
Masuk
agak ke dalam, di balik lemari kayu yang berukuran besar terdapat ruang kisaran
1 x 2 meter untuk salat, lengkap dengan sajadah. Di sisi samping kanan terdapat
gantungan yang diperkirakan untuk menggantung mukena setelah dipakai. Sungguh
tak disangka ruang prodi yang terhitung kecil bisa ditata sedemikian rupa dan
tidak melupakan ruang untuk beribadah.
Di
bagian tengah terdapat beberapa meja berbentuk persegi yang digabungkan menjadi
sebuah meja yang agak besar dan diberi taplak meja berwarna biru muda.
Disekeliling meja terdapat beberapa kursi dengan dudukan yang empuk. Di atas
meja tertata tisu dan map kearsipan. Di tengah bagian belakang terdapat satu
buah meja dan kursi. Aku menduga itu meja untuk ketua prodi. Meja yang cukup
berantakan dipenuhi dengan berkas dan tumpukan kertas. Di belakangnya terdapat
juga papan tulis berukuran sedang. Di sebelah papan tulis, pasang papan
pengumuman agak besar. Aku melihat kekompakan dosen prodiku dari foto-foto yang
ditempel pada papan tersebut. Terlihat juga beberapa pengumuman mengenai prodi.
Sedang
asyiknya aku memandangi foto-foto para dosen, terasa ada seseorang yang sedang
mengintaiku. Aku membalikan badan dan tersentak, ternyata Pak Sunu ada di hadapanku.
“Ma..maaf
Pak, saya tidak bermaksud lancang. Saya hanya melihat-lihat dan tidak ada satu
barang pun yang saya sentuh.” Aku berusaha menjelaskan dengan gugup.
“Bapak
sudah memperhatikan kamu dari tadi. Saya juga tahu maksud kedatanganmu. Hahaha…
sudah lupakan saja. Bapak ikhlas memaafkan, berjanjilah tidak mengulangi lagi.”
Senyuman lebar dan air muka yang segar membuat perasaan tidak enakku membuat
Pak Sunu marah menjadi lega. Aku pun permisi dan meninggalkan Prodi Indonesia
dengan wajah cerah.
0 comments:
Posting Komentar